Oleh: smitdev | Mei 26, 2008

Menulis atau Menjiplak ?

“… kadang tiba-tiba muncul ide lagu bagus di kepala, lalu saya pulang, putar lagu, dan sial… ternyata itu memang lagu rolling stones!”. Begitu kira-kira yang pernah dikatakan Axl Rose.

Mencipta, menulis, mengarang, atau proses kreatif lainnya memang bukan perkara gampang. Apa yang kita dengar, lihat, dan baca sering mempengaruhi proses dan hasil karya kita. Apalagi jika kita menyukai karya atau figur yang menjadi sumber inspirasi.

Di dunia penulisan buku komputer, perbedaan antara menulis dan menjiplak memang sangat tipis. Jika pada penulisan buku fiksi, penuangan isi tulisan dapat mengalir secara bebas sesuai cita rasa, kreativitas, dan daya imajinasi sang pengarang, tidak demikian halnya dengan buku komputer. Selain bersumber pada objek bahasan yang sama (misalnya software, metode, atau konsep standar), ada kaidah-kaidah tertentu yang tidak bisa seenaknya diubah sang penulis. Itulah mengapa disebut penulis, bukan pengarang.

Hal yang wajar jika kemudian terjadi kemiripan langkah-langkah atau prosedur di dalam pembahasan, terutama pada buku-buku tutorial software. Bahan-bahan penulisan pun sangat mudah diperoleh (dari internet, e-book, bahkan dokumentasi/help). Tentunya sah-sah saja jika sang penulis membaca karya orang lain untuk dijadikan sebagai sumber penulisan. Intinya adalah, penulis mengajarkan sesuatu yang telah dipelajarinya kepada orang lain.

Namun persoalan menjadi lain jika sang penulis secara sadar menjiplak atau mencomot karya orang lain. Bisa ‘berang’ sang pemilik sumber. Komputer memang menjadikan segala sesuatu menjadi mudah, tinggal copy-paste… selesai. Software terjemah semacam Transt**l pun akan menyulap berlembar-lembar sumber berbahasa asing menjadi materi yang siap salin. Sungguh sayang jika kemudahan-kemudahan ini lalu disalahgunakan. Norma dan konsep mulia tentang menulis pun jadi sering terabaikan oleh sang penulis.

Beberapa tahun silam, dengan berat hati saya terpaksa mengembalikan sebuah naskah buku komputer yang secara teknis sudah selesai ditulis. Pasalnya? Berawal dari sebaris kalimat pada naskah yang sedang saya edit itu. “Hei, sepertinya saya pernah baca kalimat ini ?!”, lalu saya coba bolak-balik beberapa buku dengan tema sejenis di rak, …ketemu! Sungguh mengejutkan, ternyata sang penulis menyalin persis hampir setiap kalimat pada salah satu buku itu! Dia hanya berimprovisasi dengan mengganti contoh-contoh gambar latihan (gambar objek kotak dia ganti menjadi lingkaran, objek segitiga menjadi kotak, dan pola-pola modifikasi semacam itu).

Sebenarnya, penguasaan teknis sang penulis tidak perlu saya ragukan. Paling tidak ini sudah terbukti dari kemampuannya dalam memodifikasi objek-objek gambar contoh yang ada di “buku sumber”. Sayang sekali, angka merah pun tidak layak diberikan untuk kemampuan menulisnya.

Lantas, bagaimana seharusnya? Jika Anda memang membutuhkan referensi dari sumber lain, maka ambillah ilmunya, bukan tulisannya. Baca, pahami, tutup sumber, lalu tulis. Dari manapun Anda mendapatkan sumber referensi dan bahan pustaka untuk menulis, gunakanlah gaya bahasa dan kreativitas Anda sendiri dalam menuangkan materi. Niscaya, sebuah buku baru dan tentunya tidak akan bersinggungan dengan hak cipta orang lain akan tercipta. Semudah itukah menulis buku komputer? …tidak juga. Di sinilah kemampuan dan kelayakan Anda sebagai seorang penulis diuji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: